1) RENDAH HATI.
Hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda dengan kedudukan rakyatnya. Ia bukan orang yang
harus di istimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya
karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanah. Ia pelayan rakyat
yang di atas pundaknya terletak tanggungjawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Dan seperti
seorang “partner” dalam batas-batas tertentu, bukan seperti “tuan dengan hambanya”. Kerendahan hati
ini mencerminkan persahabatan dan kekeluargaan, sebaliknya ke-egoan adalah cermin sifat takabur
dan ingin menang sendiri / merasa paling kuasa.
2) TERBUKA UNTUK KRITIK
Pemimpin harus menanggapi aspirasi-aspirasi rakyat dan terbuka untuk kritik-kritik sehat yang
membangun dan konstruktif. Tidak pantas menganggap kritik sebagai hujatan, orang yang mengkritik
sebagai lawan yang akan menjatuhkannya lantas dengan kekuasaannya mendzalimi orang tersebut.
Tetapi harus diperlakukan sebagai “mitra” dengan kebersamaan dalam rangka meluruskan dari
kemungkinan buruk yang terjadi untuk membangun perbaikan dan kemajuan. Ini merupakan suatu
partisipasi sejati, sebab sehebat apapun pemimpin pasti memerlukan partisipasi orang banyak.
Disinilah perlunya ”social-support” dan ”social-control”. Prinsip-prinsip dukungan dan kontrol
masyarakat ini bersumber dari norma-norma Islam yang secara utuh dari ajaran Rasullullah Saw.
3) JUJUR DAN PEGANG AMANAH.
Kejujuran yang dimiliki pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan
kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang konsisten dengan amanat
rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan perbaikan. ”Khalifah Umar pernah didatangi putranya
saat dia berada dikantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi dirumah.
Seketika itu Umar mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya, sebab apa ayah mematikan lampu
sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap, dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa
lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan
pemerintahan bukan urusan keluarga”.
4) ADIL.
Keadailan adalah konteks nyata yang harus dimiliki pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran
rakyatnya. Islam meletakkan soal penegakan keadilan itu sebagai sikap yang amat-sangat penting.
Pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu seadil-adilnya, bukan sebaliknya
berpihak pada seorang/sepihak saja-atau berat sebelah. Orang yang “lemah” harus dibela hak-haknya
serta dilindungi, orang yang “kuat” dan bertindak zhalim harus dicegah kesewenang-wenangannya.
5) KOMITMEN DALAM PERJUANGAN.
Sifat pantang menyerah dan konsisten pada konstitusi/aturan bersama bagi pemimpin adalah penting.
Teguh dan terus istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pantang tergoda oleh rayuan
dan semangat menjadi orang yang pertama di depan musuh-musuh yang hendak menghancurkan
konstitusi / peraturan yang telah di sepakati bersama.
6) DEMOKRATIS.
Demokrasi merupakan “alat” untuk membentuk masyarakat madani, dengan prinsip segala sesuatunya
dari rakyat-untuk rakyat-dan oleh rakyat. Dalam hal ini, pemimpin tidak sembarang memutuskan
sebelum ada musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari
sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik
buruknya dapat ditanggung bersama. Ibarat imam dalam sholat yang batal, tidak wajib baginya
meneruskan sholat, tetapi harus bergeser ke-samping sehingga salah seorang makmum yang ada
dibelakang imam harus menggantikannya.
7) BERBAKTI DAN MENGABDI KEPADA ALLAH.
Dalam hidup ini, segala sesuatunya takkan lepas dari pandangan Allah, manusia bisa berusaha
sehebat-hebatnya namun yang menentukan adalah Allah. Hubungan pemimpin dengan Tuhannya tidak
kalah pentingnya yaitu dengan berbakti dan mengabdi kepada Allah. Semua ini dalam rangka
memohon pertolongan dan ridho Allah semata. Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya terutama
dalam menegakkan sholat lima waktu contohnya, pemimpin akan mendapat hidayah untuk
menghindari perbuatan-perbuatan keji dan tercela. Pemimpin akan mampu mengawasi dirinya dari
perbuatan-perbuatan hina tersebut, dengan sholat yang baik dan benar menurut tuntunan Islam dapat
mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar (Al-Qur’an, Surat Al-Ankabuut ayat 45; ±
maknanya “Bacakanlah (Yaa Muhammad) apa-apa yang diwahyukan kepadamu, di antara kitab, dan
dirikanlah sholat. Sesungguhnya Sholat itu melarang perbuatan keji dan yang mungkar.
Sesungguhnya mengingat Allah itu terlebih besar (faedahnya). Allah Maha Mengetahui apa-apa yang
kamu usahakan”). Sifat yang harus terus diaktualisasikan adalah ridho menerima apa yang dicapainya.
Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali untuk lebih maju lagi, dan sabar serta
tawakkal dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan, sabar dan tawakkal saat menghadapi
kegagalan.
Hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda dengan kedudukan rakyatnya. Ia bukan orang yang
harus di istimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya
karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanah. Ia pelayan rakyat
yang di atas pundaknya terletak tanggungjawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Dan seperti
seorang “partner” dalam batas-batas tertentu, bukan seperti “tuan dengan hambanya”. Kerendahan hati
ini mencerminkan persahabatan dan kekeluargaan, sebaliknya ke-egoan adalah cermin sifat takabur
dan ingin menang sendiri / merasa paling kuasa.
2) TERBUKA UNTUK KRITIK
Pemimpin harus menanggapi aspirasi-aspirasi rakyat dan terbuka untuk kritik-kritik sehat yang
membangun dan konstruktif. Tidak pantas menganggap kritik sebagai hujatan, orang yang mengkritik
sebagai lawan yang akan menjatuhkannya lantas dengan kekuasaannya mendzalimi orang tersebut.
Tetapi harus diperlakukan sebagai “mitra” dengan kebersamaan dalam rangka meluruskan dari
kemungkinan buruk yang terjadi untuk membangun perbaikan dan kemajuan. Ini merupakan suatu
partisipasi sejati, sebab sehebat apapun pemimpin pasti memerlukan partisipasi orang banyak.
Disinilah perlunya ”social-support” dan ”social-control”. Prinsip-prinsip dukungan dan kontrol
masyarakat ini bersumber dari norma-norma Islam yang secara utuh dari ajaran Rasullullah Saw.
3) JUJUR DAN PEGANG AMANAH.
Kejujuran yang dimiliki pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan
kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang konsisten dengan amanat
rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan perbaikan. ”Khalifah Umar pernah didatangi putranya
saat dia berada dikantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi dirumah.
Seketika itu Umar mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya, sebab apa ayah mematikan lampu
sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap, dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa
lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan
pemerintahan bukan urusan keluarga”.
4) ADIL.
Keadailan adalah konteks nyata yang harus dimiliki pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran
rakyatnya. Islam meletakkan soal penegakan keadilan itu sebagai sikap yang amat-sangat penting.
Pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu seadil-adilnya, bukan sebaliknya
berpihak pada seorang/sepihak saja-atau berat sebelah. Orang yang “lemah” harus dibela hak-haknya
serta dilindungi, orang yang “kuat” dan bertindak zhalim harus dicegah kesewenang-wenangannya.
5) KOMITMEN DALAM PERJUANGAN.
Sifat pantang menyerah dan konsisten pada konstitusi/aturan bersama bagi pemimpin adalah penting.
Teguh dan terus istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pantang tergoda oleh rayuan
dan semangat menjadi orang yang pertama di depan musuh-musuh yang hendak menghancurkan
konstitusi / peraturan yang telah di sepakati bersama.
6) DEMOKRATIS.
Demokrasi merupakan “alat” untuk membentuk masyarakat madani, dengan prinsip segala sesuatunya
dari rakyat-untuk rakyat-dan oleh rakyat. Dalam hal ini, pemimpin tidak sembarang memutuskan
sebelum ada musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari
sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik
buruknya dapat ditanggung bersama. Ibarat imam dalam sholat yang batal, tidak wajib baginya
meneruskan sholat, tetapi harus bergeser ke-samping sehingga salah seorang makmum yang ada
dibelakang imam harus menggantikannya.
7) BERBAKTI DAN MENGABDI KEPADA ALLAH.
Dalam hidup ini, segala sesuatunya takkan lepas dari pandangan Allah, manusia bisa berusaha
sehebat-hebatnya namun yang menentukan adalah Allah. Hubungan pemimpin dengan Tuhannya tidak
kalah pentingnya yaitu dengan berbakti dan mengabdi kepada Allah. Semua ini dalam rangka
memohon pertolongan dan ridho Allah semata. Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya terutama
dalam menegakkan sholat lima waktu contohnya, pemimpin akan mendapat hidayah untuk
menghindari perbuatan-perbuatan keji dan tercela. Pemimpin akan mampu mengawasi dirinya dari
perbuatan-perbuatan hina tersebut, dengan sholat yang baik dan benar menurut tuntunan Islam dapat
mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar (Al-Qur’an, Surat Al-Ankabuut ayat 45; ±
maknanya “Bacakanlah (Yaa Muhammad) apa-apa yang diwahyukan kepadamu, di antara kitab, dan
dirikanlah sholat. Sesungguhnya Sholat itu melarang perbuatan keji dan yang mungkar.
Sesungguhnya mengingat Allah itu terlebih besar (faedahnya). Allah Maha Mengetahui apa-apa yang
kamu usahakan”). Sifat yang harus terus diaktualisasikan adalah ridho menerima apa yang dicapainya.
Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali untuk lebih maju lagi, dan sabar serta
tawakkal dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan, sabar dan tawakkal saat menghadapi
kegagalan.












